Giraffe Journey 3 : Merapi vs Gede

Tidak stabilnya kondisi gunung membuat itinerary kami sempat berubah-ubah. Bermodalkan tiket kereta Pasar Senen – Yogyakarta pulang pergi, kami sempat bingung akan mendaki Gunung Merapi atau Gunung Lawu. Iya kami, saya, Kunthi, Papa Mei, dan Isal. Setelah itinerary Pendakian Lawu dibuat, H-2 tujuan kembali ke destinasi awal , Gunung merapi.

image

Power Ranger

Perjalanan yang awalnya sudah saya ingin cancel karena kondisi hati cuaca yang tidak menentu, namun mengingat pendakian ini merupakan pemanasan untuk mendaki Gunung Rinjani di akhir Mei, hayuklah kita tancap. Ditambah, ada iming-iming dari kawan yang tinggal di Boyolali, Mbak Alia, kalau setelah mendaki, dia akan memberikan saya susu segar Boyolali! Ahey! #murahan

“Mungkin benar bahwa gunung itu seperti hati, tak tertebak. Bedanya, gunung tidak pernah melarikan diri.”

Perjalanan dimulai sekitar jam 7 malam setelah menunaikan Shalat Isya dan Isal yasinan. Temannya bilang Gunung Merapi sedang gelisah. Wah!samakayakpemilikblogini.

Benar saja, setelah sekitar 2 jam perjalanan, Mbak Al mendapat telepon dari salah seorang ranger kalau di Bantul Yogyakarta terjadi gempa dan pendaki hanya diizinkan berjalan hingga Pasar Bubrah. Sesaat semua terdiam, entah istighfar, kaget, terbawa ke kenangan mantan, atau memikirkan kamu.

“Yaudah kita liat besok aja, bisa muncak syukur, nggak yaudah”

Pendakian mulai dari awal hingga camp di Watu Gajah memakan waktu sekitar 4.5 jam, sudah termasuk bergalau ria ketika lama beristirahat saat Papa Mei cedera. Ah ya! Dia kekeuh tidak mau mengganti celana jeansnya dengan celana trekking. -_-

“Alam mengajarkan lebih banyak dari apa yang bisa manusia ajarkan.”

Itu benar sekali karena kami bertemu banyak orang baru, Mulai dari Mas Fathur, Mas Arko, dan dek Saiful hingga orang-orang yang berpapasan dan setelah mengobrol bilang “iya naik gunung untuk mencari kesendirian”. Mungkin bahasa halusnya dari Galau.

Meski pendakian terhitung berat, Girrafe tetap menempel di punggung ransel akibat ide agita untuk meneruskan #giraffejourney. Sedangkan tripmate Jelapah, Domo, dia pergi ke Gunung Gede. Semoga kami sama-sama bisa bertemu di Puncak… yang berbeda.

image

Dedek Jelapah menyambut Sunrise bersiap Muncak

Medan Merapi jauh berbeda dengan Merbabu. Catet : jauh banget. Sempat terpikir untuk tidak memuncak karena terlanjur jiper dengan medan berpasir #traumasemeru.

Untung di tengah perjalanan, berkat saran Mas Fathur, akhirnya saya kunthi dan isal belok untuk naik batu-batu terjal hingga puncak merapi. Yippie! Banyak jalan menuju Roma puncak hati Merapi.

Untunglah Merapi tenang ketika kami mendaki. Beberapa jam setelah kami tiba di basecamp dan pulang ke Boyolali, Merapi erupsi 😦. Allah SWT masih sayang kami semua. 😂😂 Alhamdulillah.

image

Kunthi dengan dedek Jelapah. Di belakangnya, om Jelapah lagi berusaha turun.

Hey Domo, bareng Mbak Al, Kak Ast dan Kak Kunth, aku berhasil sampai di pinggiran Kawah Merapi. Itu Kak Kunth yang memegang akuuu. Kamu juga pasti sampai Puncak Gede kan? Dek Agit kan udah hatam sekali Puncak Gede 😘. Sampai bertemu di Giraffe Journey 4 ! 😘

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s